Tampilkan postingan dengan label kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kota. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juli 2017

Sejarah Banten

Sejarah Banten - Nama Banten dalam sumber lokal tercatat pada naskah Carita Parahiyangan yang ditulis pada tahun 1580 dan menyebutkan adanya sebuah tempat yang disebut Wahanten Girang yang dapat dihubungkan dengan nama Banten. Dalam Tambo Tulangbawang dari Primbon Bayah, serta berita Cina hingga abad ke-13, orang menyebut daerah Banten dengan nama Medanggili. Kota Banten awal mulai tumbuh sekitar abad ke-11 atau abad ke-12 Masehi. Ketika itu Banten diduga sudah menjadi pemukiman urban penting, yang dilengkapi dengan parit dan benteng. Masyarakat dalam pemukiman itu melakukan kegiatan kerajinan, dari pakian sampai tembikar, peleburan besi dan perunggu, perhiasan emas, dan manik-manik. Proses Berdiri dan Perkembangan Kesultanan Banten

Sejarah Banten
Sejarah Banten
Peletak dasar nilai keislaman di kawasan Sunda ialah Nurullah dari Samudera Pasai. Beliau datang ke sana pada tahun 1525 atau 1526 atas penntah Sultan Demak (Trenggono). Kedatangan Nurullah atau Syarif Hidayatullah atau Fatahilah yang kemudian menjadi Sunan Gunung Jati di Jawa bagian barat itu dengan missi pertama penyebaran Islam (missi agama) dan kedua memperluas wilayah kekuasaan Demak (misi politik). Sesampainya di kota pelabuhan Banten ia segera menyingkirkan Bupati setempat baru kemudian pada tahun 1527 Sunda Kelapa (pelabuhan tua) dapat direbutnya. Runtuhnya pelabuhan Sunda Kelapa yang amat berharga bagi kerajaan Pajajaran Hindu itu kemudian sebagai peringatan atas peristiwa bersejarah ini maka kota tersebut diberi nama Jayakarta yang di abad ke-20 nanti terkenal dengan Jakarta.

Pada awal abad ke-15 Masehi, di pesisir utara teluk Banten telah tumbuh kantong-kantong pemukiman orang-orang muslim. Saat itu Banten telah menjadi salah satu Bandar penting Kerajaan Sunda yang ibu kota kerajaannya terletak di dekat Kota Bogor sekarang. Selain Banten, beberapa Bandar penting Kerajaan Sunda pada awal abad ke-16, sebagaimana disebut oleh Tome Pires (1513) adalah Pondam (Pontang), Tamgaram (Tanara), Cheguide (Cigede), Calapa (Kalapa), dan sebagainya. Sebenarnya menjelang abad ke-16 beberapa Bandar yang terletak di utara Jawa seperti Gresik, Demak, dan Banten telah menjadi jalur dan pusat sosialisasi Islam di Jawa yang dilakukan oleh para wali. Penguasaan bandar-bandar ini merupakan upaya menuntaskan Islamisasi pantai utara Pulau Jawa. Banten sebagai kota pelabuhan antarpulau dan antarnegara kemudian tumbuh pesat seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan Kesultanan Banten sebagai kerajaan Islam yang didirikan oleh Syarif Hidayatullah bersama anaknya Hasanuddin.

Islamisasi Banten, menurut cerita tradisi sebagaimana disebutkan dalam berbagai babad, dilakukan oleh Syarif Hidaytullah (Sunan Gunung Jati) bersama 98 orang muridnya dari Cirebon yang datang ke Banten. Ia berusaha mengislamkan Banten Ilir dan berhasil (Ambary, 1995: 2). Dalam Babad Banten diceritakan bahwa Sunan Gunung Jati dan putranya Hasanuddin (Pangeran Sabakingkin), hasil pernikahannya dengan Dewi Kawunganten, datang dari Pakungwati (Cirebon) untuk mengislamkan masyarakat di daerah Banten. Mula-mula mereka datang di Banten Girang, lalu terus ke selatan, ke Gunung Pulosari, tempat bersemayamnya 800 ajar yang kemudian semuanya menjadi pengikut Hasanuddin. Di lereng Gunung Pulosari itu, Sunan Gunung Jati mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan keislaman kepada anaknya. Setelah ilmu yang dikuasai Hasanuddin dianggap cukup, Sunan Gunung Jati memerintahkan supaya anaknya itu berkelana sambil menyebarkan agama Islam kepada penduduk negeri.

Setelah Sunan Gunung Jati kembali ke Cirebon, menurut Babad Banten, Islamisasi dilanjutkan oleh Hasanuddin dengan berdakwah daru satu daerah ke daerah lain, mulai dari Gunung Pulosari, Gunung Karang, Gunung Lor, sampai ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon. Setelah tujuh tahun melakukan tugasnya itu, Hasanuddin bertemu kembali dengan ayahnya, yang kemudian membawanya pergi menunaikan ibadah haji ke Mekkah.  Dalam menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk pribumi, Hasanuddin menggunakan cara-cara yang dikenal oleh masyarakat setempat, seperti menyambung ayam ataupun mengadu kesaktian.  Diceritakan bahwa dalam acara menyabung ayam di Gunung Lancar yang dihadiri oleh banyak pembesar negeri, dua orang ponggawa Pajajaran, Mas Jong dan Agus Jo disebut juga Ki Jongjo memeluk agama Islam dan bersedia menjadi pengikut Hasanuddin.

Peta Banten
Peta Banten
Babad Banten selanjutnya menyebutkan bahwa usahs Islamisasi berhasil secara menakjubkan. Hasanuddin berhasil mengislamkan masyarakat Banten yang di dalamnya terdapat 800 orang resi (pertapa). Setelah berhasil mengalahkan Prabu Pucuk Umum di Wahanten Girang (Banten Girang) pada tahun 1525, Hasanuddin atas petunjuk Sunan Gunung Jati, pada tanggal 8 Oktober 1526, memindahkan pusat pemerintahan Banten, yang tadinya berada di pedalaman Banten Girang (tiga kilometer dari Kota Serang), ke dekat pelabuhan Banten. Dalam pemindahan pusat pemerintahan Banten ke pesisir tersebut, Sunan Gunung Jati pulalah yang menentukan posisi dalem (istana), benteng, pasar, dan alun-alun yang harus dibangun di dekat kuala Sungai Banten yang kemudian diberi nama Surasowan. Tempat ini kemudian menjadi ibu kota Kerajaan Banten sejak tahun 1526 Masehi.

Pemilihan Surasowan sebagai ibu kota Kesultanan Banten sebagai pusat administrasi politik kesultanan Islam, nampaknya didasarkan atas perimbangan antara lain karena Surasowan lebih mudah dikembangkan sebagai bandar pusat perdagangan. Oleh karena Banten semakin besar dan maju, maka pada tahun 1552 Masehi, Banten yang tadinya hanya sebuah kadipaten diubah menjadi Negara bagian Demak dengan dinobatkannya Hasanuddin sebagai raja di Kesultanan Banten dengan gelar Maulana Hasanuddin Panembahan Surasowan. Kesultanan Banten dirintis pendiriannya oleh tiga unsur kekuatan, yaitu kekuatan-kekuatan dari Cirebon, Demak, dan Banten sendiri sejak awal abad ke-16 Masehi. Perintisannya diawali dengan kegiatan penyebaran agama Islam, kemudian pembentukan kelompok masyarakat muslim, penguasaan daerah secara militer (1526), dan akhirnya penguasaan daerah secara politik sampai berdirinya suatu pemerintahan yang berdiri sendiri diberi nama Kesultanan Banten.

Sebagai penguasa Islam baru di Banten ia bersikap sebagai bawahan Demak. Wilayah kekuasaannya meliputi Banten, Jakarta dan Cirebon. Pada masanya usaha untuk menjarah Pakuan Pajajaran masih belum terencana hal ini karena disamping jangkauannya agak jauh dari pantai juga disibukkan oleh usaha pembenahan kekuasaan barunya terutama dalam mengantisipasi masa transisi budaya dari Hindu ke Islam bahkan untuk kepentingan ini ia harus berpindah-pindah tempat, kadang-kadang di Banten kadang di Cirebon. Baru setelah Pangeran Pasareyan dijadikan vvakilnya di Cirebon tugasnya sedikit berkurang. Pangeran Pasareyan hanya sebentar berkuasa, ia meninggal dalam usia yang relatif muda pada tahun 1552. Kematiannya memaksa Sunan Gunung Jati pindah ke Cirebon untuk selama-lamanya.

Adapun Banten dan Jayakarta penguasaannya diserahkan kepada putranya Hasanudin. Ada satu persoalan yang patut dipaparkan di sini ialah setelah pelabuhan Sunda Kelapa direbut Sunan Gunung Jati pada tahun 1527, orang Portugis yang telah mengadakan perjanjian dengan Sang Hyang dari Pajajaran tahun 1522 datang ke Sunda Kelapa untuk mendirikan perkantoran dagang mereka tidak mengerti kalau daerah tersebut telah dikuasai oleh Islam. Terang saja kehadiran mereka disambut dengan kekerasan senjata.

Hasanudin, penguasa kedua Banten, melanjutkan cita-cita ayahnya untuk meluaskan pengaruh Islam. Banvak tindakan progresif yang ia lakukan dalam rangka memberikan arah terhadap kesultanan yang baru muncul tersebut. Membangun tempat tempat ibadah (masjid agung Banten dan Pacinan) dan sarana pendidikan berupa pesantren di Sasunyatan (pengembangannya terjadi pada masa pemerintahan Maulana Yusuf) adalah karya nyata Maulana Hasanudin yang menumental terhadap generasi penerusnya. Tercatat kekuasaan Banten saat itu meliputi seluruh Banten, Jayakarta, Krawang, Lampung dan Bengkulu. Banten yang dulunya hanya merupakan Kadipaten, pada tahun 1552 berubah menjadi negara bagian Demak dan Pangeran Hasanudin ditunjuk sebagai Sultannya bahkan tatkala kesultanan Demak runtuh dan di ganti Pajang pada tahun 1568 Maulana Hasanuddin memproklamasikan Banten sebagai kesultanan yang merdeka dan indipenden tanpa terkait dengan penguasa Pajang. Pusat pemerintahan yang semula berada di Banten Girang dipindahkan ke Banten Lor (Surosowan). Inisiatif Syarif Hidayatullah ini dimaksudkan agar secara politis dan ekonomis memudahkan hubungan antara pesisir utara Jawa dengan pesisir Sumatra Barat, Selat Sunda dan Malaka.

Pada sekitar tahun 1570 M Sultan pertama Banten wafat dan digantikan putra sulungnya, Pangeran Yusuf. Setelah meninggal Maulana Hasanuddin terkenal dengan nama anumertanya "Pangeran Saba Kingking" Dibavvah kuasa Pangeran Yusuf, kharisma Banten naik selangkah lebih tinggi. Proses Islamisasi pun nampak tambah sempurna. Seluruh wilayah Banten, baik di pusat kota Banten Girang, Banten Surowowan maupun daerah selatan telah mengikuti agama Islam, hal ini disebabkan karena Adipati Pucuk Umum (penguasa tertinggi Banten Hindu) telah menyerahkan kekuasaanya kepada penguasa Islam. Pesantren Kasunyatan yang telah dirintis oleh Sultan Hasanuddin dikembangkannya secara intensif sehingga mampu mengorbitkan kaderkader agama yang handal dan bertanggungjawab. Salah satu karya nyata dari kegiatan ilmiah di pesantren Kasunyatan ialah sebuah Al-Qur'an dengan tulisan tangan yang kini tersimpan di cungkup makam Maulana Yusuf. Masjid Agung Banten bukan saja sebagai sarana ibadah mahdah tetapi sifungsikan sebagai tempat dakwah dan bahsul masa'il ad-dien (diskusi problematika agama) bagi ulama-ulama saat itu.

Dalam upaya perluasan wilayah Islam Maulana Yusuf, yang dicatat Babad Banten sebagai penguasa yang gagah perkasa dan memilik ketrampilan ïstimewa dalam berperang, dengan dibantu prajurit dan tokoh agama telah mampu meruntuhkan secara pasti kerajaan 'kafir' tua Pajajaran dan merebut Pakuan (Ibukota Kerajaan). Sukses besar lainnya yang dicapai selama ia berkuasa ialah perhatiannya terhadap pertanian, langkah ini ternyata membuat peri kehidupan rakyat Banten menjadi lebih makmur. Waduk atau danau buatan yang disebut "Tasikardi" merupakan inisiatifnya untuk mengairi persawahan-persawahan sekaligus dimanfaatkan untuk kebutuhan istana dan kota sekitarnya.


Maulana Yusuf wafat tahun 1580 dimakamkan di Pekalongan Gede dekat Kasunyatan maka ia terkenal dengan nama anumertanuya "Pangeran Panembahan Pekalongan Gede" atau "Pangeran Pasareyan". Meninggalnya Maulana Yusuf menimbulkan intrik politik di istana Banten yang baru merambah kejenjang suksesinya. Pangeran Arya Jepara (adik Maulana Yusuf yang dididik di Jepara oleh Ratu Kalinyatat) datang ke Banten untuk meminta supaya dirinya diangkat sebagai pengganti saudaranya sementara menunggu sampai pangeran pewaris tahta menjadi dewasa. Saat itu usia Pangeran Muhammad (putra mahkota) baru 9 tahun. Akan tetapi Kadli dan pejabat besar istana lainnya memutuskan untuk tetap menobatkan Pangeran yang masih belum dewasa itu sebagi Sultan Banten untuk mengganti ayahnya. Adapun masalah jalannya pemerintahan sepenuhnya diperwalikan kepada Mangkubumi sampai sang Pangeran dewasa.

Merasa kehendaknya tidak terkabul, maka tersinggunglah Pangeran Arya Jepara dan terjadilah bentrokan senjata antara kedua belah pihak. Dalam pertempuran itu Pangeran Jepara kalah dan akhirnya ia kembali ke Jepara dengan tangan hampa. Setelah dewasa Maulana Muhammad terkenal sebagai seorang yang shalih dan memiliki ghirah yang kuat untuk menyebarluaskan Islam, ia banvak mengarang kitab serta membangun sarana-sarana ibadah sampai ke pelosok desa. Menjadi imam dan Khatib adalah kebiasaannya. Walaupun kemajuan yang diperoleh Maulana Muhammad tidak setinggi ayahnya namun ada suatu peristiwa menonjol yang terjadi pada masa kekuasaannya, yaitu penyerbuan atas Palembang. Ekspedisi penyerangan ini bermula dari bujukan Pangeran Mas (putra Aria Tangin) yang berambisi menjadi raja di Palembang untuk menganeksasi daerah tersebut sebagai upaya perluasan daerah Islam. Sayang dalam pada itu Sultan Banten yang relatif masih muda itu gugur di medan tempur pada tahun 1596 dengan meninggalkan seorang pewaris tahta yang baru berusia 5 bulan.

Pengganti Maulana Muhammad putranya Sultan Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir (1596-1651). Karena saat penobatannya sebagai Sultan Banten keempat ia masih balita. maka untuk yang kedua kalinya kesultanan Banten diserahkan kuasanya (sebagai wali) kepada Mangkubumi Jayanegara, ia termasuk abdi yang memiliki loyalitas tinggi sehingga ketika Banten berada dalam kuasanya. Baik periode Maulana Muhammad maupun periode Abdul Mufakhir tetap dalam kondisi stabil dan tenteram. Semenjak Mangkubumi Jayanegara wafat tahun 1602, suasana Banten mulai dirundung oleh kemelut yang menyeret kelembah kesuraman. Iri dan ambisi mewarnai pangeran-pangeran Banten - mereka mulai bertindak sendiri-sendiri - kontrol pun terasa mulai mengendor. Pemberontakan bermunculan di sana-sini sehingga boleh dikatakan periode ini merupakan periode terburuk bagi Banten saat itu. Diluar istana (pada sisi lain) pengaruh Asing mulai terasa akibat kebijaksanaan-kebijaksanaan Mangkubumi (pengendali kesultanan) pengganti Jayanagara, yakni ayah tiri Pangeran sendiri yang begitu terbuka terhadap mereka.

Suasana bertambah mendung, kekacauan terus memperburuk keadaan. Mangkubumi sudah tidak mampu lagi mengendalaikan dan mengantisipasi keadaan, kekuasaannya hanya sebatas lingkup istana, sedangkan di luar istana para pangeranlah yang berkuasa. Keadaan seperti ini berawal dari kehadiran Mangkubumi yang memancing rasa curiga dan iri hati beberapa pangeran lain yang akhirnya pengkhianatan pun terjadi dimana-mana. Aksi pengkhianatan itu berhasil melumpuhkan Mangkubumi dan membunuhnya. Terbunuhnya Mangkubumi ini bukan berarti menghentikan kemelut yang merundung Banten, akan tetapi justru menarik minat dan ambisi untuk menduduki jabatan terhormat tersebut atau bahkan merebut sama sekali tahta kesultanan Banten. Sikap demikian ini ditunjukkan oleh Pangeran Kulon (cucu Maulana Yusuf) yang di bantu pangeran Singaraja dan Tubagus Prabangsa yang berambisi menduduki tahta kesultanan.

Aksi pemberontakan bisa dipadamkan berkat kerja sama antara pasukan Sultan, pasukan Pangeran Ranumanggala dan bantuan Pangeran Jayakarta dan berakhir dengan perdamaian. Sebagai pengganti jabatan Mangkubumi diangkatlah Pangeran Arya Ranumanggala (putra Maulana Yusuf dari isteri selir). Setelah memangku jabatan ia segera mengadakan penertiban-penertiban, baik keamanan dalam negeri maupun merekonstruksi kebijaksanaan Mangkubumi sebelumnya terhadap pedagang-pedagang Eropa. Pajak ditingkatkan terutama untuk Kompeni. Tindakan ini diambil agar para pedagang Asing enyah dari bumi Banten karena ia telah menangkap maksud-maksud mereka yang bukan hanya berniaga tetapi hendak mencampuri urusan dalam negeri. Tindakan tegas Arya Ranumanggala ini akhirnya memaksa Kompeni untuk memalingkan orientasi niaganya ke Jayakarya. Di Jayakarta mereka disambut ramah oleh Pangeran Wijayakrama dengan suatu dalih kedatangan mereka akan meramaikan pelabuhan Sunda Kelapa yang nantinya mampu mengimbangi pelabuhan Banten.

Melihat hubungan intim Pangeran Jayakarta dengan Kompeni terusiklah hati Mangkubumi Arya Ranumanggala sebagai pemegang kendali Banten yang membawahi Jayakarta untuk menghancurkan benteng-benteng asing baik Belanda maupun Inggris yang ada dikawasan Banten. Maka diutuslah Pangeran Upapatih untuk mengemban amanat ini. Dalam pada itu orang-orang Inggris dapat didesaknya hingga kembali ke kapal mereka selanjutnya pasukan juga bisa mendesak Belanda, sementara Belanda tetap defensif dan tidak mau menyerah. bantuan dari Maluku tiba. Setelah bantuan itu datang (dipimpin J .P. Coon) pada bulan Maret 1619 kepungan prajurit Banten tak ada artinya lagi dan mereka kembali dengan membawa kekecewaan. Saat itulah secara resmi Jayakarta dikuasai oleh Kompeni dan dirubah namanya menjadi Batavia. Sejak peristiwa itu kontak senjata antara Banten dengan Kompeni agak tenang, walaupun secara kecil-kecilan masih tetap berlanjut.

Hal ini disebabkan karena faktor intern istana; peralihan kekuasaan dari Mangkubumi Arya Ranumanggala ( sebagai wali Sultan selama belum dewasa ) kepada Sultan Abdul Mufakhir yang sudah menjadi dewasa serta adanya usaha Mataram untuk menganeksasi Banten melalui perantaraan Cirebon. Kontak senjata antara Banten-Cirebon yang terjadi tahun 1650 yang kemudian terkenal dengan "peristiwa Pagarage" atau "peristiwa Pacerebonan"' walau dapat dimenangkan fihak Banten namun cukup membuat Banten mencurahkan segala perhatiannya. Kontak senjata antara Banten-Kompem menjadi aktif kembali setelah Sultan Ageng Tirtayasa menggantikan kakeknya yang meninggal pada tahun 1651. Ia berkuasa di Banten (Sorosowan) mulai tahun 1651-1676 setelah itu karena ada perbedaan dengan putranya Sultan Haji ia terpaksa pindah ke Tirtayasa dan menyusun kekuatan di sana untuk mengadakan penyerangan terhadap Kompeni.

Keadaan Banten semenjak diperintah Sultan Ageng Tirtayasa lebih baik lagi, baik di bidang politik, sosial budaya, terutama perekonomiannya. Dalam bidang perdagangan Banten mengalami perkembangan yang pesat. Hubungan dagangnya dengan Persia, Surat, Mekkah, Karamandel, Benggala, Siam, Tonkin dan China cukup mengancam kedudukan VOC yang bermarkas di Batavia. Sebagai seorang yang taat dalam beragama ia sangat antipati kepada Belanda. Penyerangan secara gerilya beliau lancarkan melalui darat dan laut untuk mematahkan kubu pertahanan Belanda yang bermarkas di Batavia. Aksi teror dan sabotase yang diarahkan kepada kapal-kapal dagang Kompeni merupakan kendala yang sangat membahayakan bagi Belanda.

Kurang lebih dua puluh tahun lamanya Banten merasakan suasana aman dan tentram dibawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa menjadi berubah setelah putra sulungnya Sultah Abu Nas'r Abdul Kahar atau Sultan Haji kembali dari tanah suci (1676) sebab ia lebih berpihak kepada Kompeni dibanding orang-orang yang dekat dengan ayahnya. Ia semakin mudah dipengaruhi Kompeni, model hidupnya pun mencerminkan kehidupan orang Eropa pada umumnya. Konsekuensinya rakyat jadi korban.

Pada tahun 1680 Sultan Ageng Tirtayasa benar-benar mengalami kesulitan sebab putranya telah membelokkan serta memotong politiknya. Akhirnya karena dirasa sulit untuk meluruskan jalan pikiran anaknya yang telah terseret negosiasi yang dilakukan Kompeni ia memutuskan untuk hijrah ke Tirtayasa dan membentuk front di sana beserta pengikut setianya. Karena itulah nama Abu Fath Abdul Fattah terkenal dengan sebutan Sultan Ageng Tirtayasa. Akan tetapi bagaimanapun sulitnya (harus berhadapan dengan putranya sendiri), ia tetap tegar pada pendiriannya. Ia beserta para pengikut setianya terus melancarkan serangan kepada Kompeni yang kian intensif pengaruhnya terhadap istana Surosowan. Pada 27 Pebruari 1682, Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa baru berhenti setelah ia ditangkap dan dipenjarakan oleh Kompeni sampai wafatnya tahun 1692. Dengan ditanda tanganinya perjanjian antara Kompeni dan Sultan Haji pada Agustus 1682, maka kekuasaan mutlak Sultan Banten atas daerahnya berakhir, sedang penguasa sebenarnya adalah Kompeni. Sultan di sini hanya simbol belaka. Pengauruh Belanda semakin terasa intensif setelah Daendeles menganeksasi Banten pada tahun 1808. Sultan dan alat-alat politiknya dipertahankan akan tetapi berada dibawah pengawasan ketat pemerintah Belanda. Para penguasa Banten diperbolehkan menggunakan gelar Sultannya, akan tetapi hakekatnya mereka hanya boneka belaka, sebab Banten sudah termasuk ke dalam wilayah Belanda.

A. Sistem Politik Keslutanan Banten
Sebagaimana kerajaan tradisional lainnya, kekuasaan Sultan di sini mempunyai otoritas tertinggi serta mempunyai hak prerogratif penuh atas segala urusan, baik politik atau lainnya. Pengakuan dan pengukuhan atas jabatan Sultan ditetapkan berdasarkan warisan. Dalam melaksanakan tugasnya (bidang administratif pemerintahan) Sultan dibantu seorang Mangkubumi dan beberapa pejabat bawahannya; mereka ini terdiri dari golongan elite yang kebanyakan bukan golongan pangeran atau kaum bangsawan lain. Adapun khusus untuk kerabat Sultan atau kaum bangsawan menempati strata lebih rendah di bawah Sultan dan lebih tinggi di atas pejabat administratif.

Untuk urusan birokrasi pusat dikepalai oleh seorang patih (wazir besar) yang dibantu dua orang kliwon yang juga disebut Patih, sedang pengadilan dan keagamaan diserahkan kepada Fakih Hajamuddin. Setingkat di bawahnya adalah para punggawa yang menangani bidang administrasi dan pengawasanterhadap perekonomian negara. Syahbandar adalah pejabat negara yang ditugasi untuk mengawasi perdangan luar negeri di kota-kota pelabuhan. Sejajar dengan pejabat-pejabat di kotakota pelabuhan ialah para kepala daerah. Untuk mencermati perjalanan sejarah perpolitikan kerajaan Banten, internal maupun eksternal marilah kita simak fase-fase berikut ini.

1.      Fase Perintisan
Pada mulanya penaklukan atas Banten oleh Syarif Hidayatullah tahun 1525 atau 1526 hanya bermotifkan politik, perluasan wilayah Demak dan penyebaran agama Islam dikawasan Jawa Barat yang masih berada di bawah kekuasaan kerajaan Hindu Pajajaran akan tetapi setelah Sunan Gunung Jati pindah ke Cirebon dan Banten diserahkan kepada putranya, Maulana Hasanuddin, Banten diberi hak penuh untuk membentuk kesultanan bawahan Demak dengan Maulana Hasanudin sebagai sultan pertamanya bahkan tatkala kekuasaan Demak pindah ke Pajang (Jaka Tingkir) Banten yang dependen pada Demak diproklamasikan oleh Sultan Maulana Hasanuddin sebagai kesultanan yang independen.

Selama 18 tahun lamanya ia berkuasa di Banten(1552-1570) banyak sekali kemajuan yang dicapai. Pusat pemerintahan yang dulunya Banten Girang karena kepentingan strategi politik dan perdagangan ia pindahkan ke Surosowan. Kekuasaan Banten saat itu meliputi seluruh Banten, Jayakarta, Krawang, Lampung dan Bengkulu. Ini suatu bukti bahwa Banten yang baru saja tampil di permukaan telah memiliki sistem politik yang bagus.

2.      Fase Perkembangan
Fase ini diwarnai dengan tampilnya Maulana Yusuf menggantikan ayahnya. Berada di bawah kuasanya BAnten memperoleh popularitas dan gengsi yang tinggi di percaturan politik. Kerajaan Hindu Pajajaran yang merupakan simbol kejayaan Pasundan saat itu bisa diruntuhkan oleh kekuatan Maulana Yusuf yang bahu membahu dengan ulama. Dengan demikian maka lingkup kekuasaan Banten menjadi semakin luas.

3.      Fase Krisis Politik dan penuh intrik
Meninggalnya Maulana Yusuf tahun 1580 merupakan awal terjadinya intrik politik di lingkungan istana, sebab ketika beliau wafat putra mahkota Pangeran Muhammad baru berusia 9 tahun. Momentum ini dimanfaatkan oleh Pangeran Arya Jepara (adik Maulana Yusuf) untuk menampilkan dirinya sebagai pengganti kakaknya. Ia menuntut kepada pembesar kerajaan Banten untuk menobatkan dirinya sebagai penguasa Banten sampai pangeran yang berwenang mencapai dewasa. Karena kehendaknya tidak dikabulkan kadli sebagai wali Sultan maka pertempuran pun tidak dapat dihindarkan lagi. Dalam pertempuran itu Pangeran Jepara dan prajuritnya kalah, akhirnya ia kembali ke Jepara dengan tangan hampa. Setelah intrik politik yang ditimbulkan Pangeran Arya Jepara usai, suhu politik Banten mengalami perubahan yang serius; musyawarah kadli memutuskan sebagai pelaksana pemerintahan darurat sementara menunggu usia Sultan dewasa adalah Mangkubumi.

Perubahan sistem ini kemudian membawa pengaruh yang besar bagi perjalanan politik di kesultanan Banten karena bagaimanapun tampilnya Mangkubumi sebagai pucuk pelaksana pemerintahan telah memancing rasa cemburu dan iri keluarga bangsawan, terutama kalangan pangeran. Suasana politik Banten menjadi semakin suram setelah gugurnya Maulana Muhammad dalam ekspedisi penyerangan Palembang dalam usia yang relatif muda. Karena putra mahkota masih 5 bulan usianya, maka untuk yang kedua kalinya kendali pemerintahan Banten dipegang oleh Mangkubumi. Secara otomatis jabatan mangkubumi menjadi incaran, banyak pangeran yang berambisi menduduki jabatan bergengsi itu. Sebagai akibatnya terjadilah pemberontakan-pemberontakan disana-sini yang membuat situasi politik menjadi melemah.

Upava ekspansi tidak mungkin bisa dilaksanakan saat itu karena untuk menyelesaikan persoalan intern sendin cukup banvak menyita waktu sementara di luar istana Kompeni dan orang Eropa lainnya mulai bersiap untuk memasang politik adu dombanya. Yang sangat tragis (akibat suhu politik yang tidak sehat) ialah Jayakarta, yang merupakan pelabuhan andalan, terpaksa jatuh ketangan Belanda pada tahun 1619.

4.      Fase Rekonstruksi
Naik tahtanya Sultan Ageng Tirtayasa sebagai Sultan Banten menggantikan kakeknya Sultan Abdul Mufakhir merupakan angm segar bagi kehidupan politik di Banten. Pembenahan ke dalam serta penataan aparatur pemerintahan secara tertib adalah langkah awalnya untku mengembalikan Banten menjadi kesultanan yang berwibawa, terutama di mata Kompeni yang mulai berani macam-macam di Banten. Setelah itu baru diantisipasi faktor-faktor lain yang seolah-olah menjadikan Banten lumpuh tak berdaya. Jawaban yang ditemukan ialah adanya penetrasi dan infiltrasi orang asing di bumi warisan Sunan Gunung Jati. Karenanya jika Banten ingin mempunyai pengaruh yang kuat sebagaimana periode-periode awal, maka harus mampu mengusir Kompeni dari wilayah Banten.

Segera Sultan yang anti campur tangan asing itu melancarkan serangan-serangannya terhadap Kompeni. Teror sabotasi dan gerilya adalah taktik strategi politiknya untuk membuat repot Belanda. Kontak senjata antara kedua belah pihak baik di darat maupun di laut sering terjadi tanpa dapat dihindari sehingga amatlah wajar apabila Belanda mengangap Banten saat itu sebagai musuh yang amat berat.

5.      Fase Lepasnya Kesultanan Banten Dianeksasi Belanda
Sistem perlawnan Sultan Ageng Tirtayasa v ang sudah mulai menciut nyali Belanda akhirnya mendapat hambatan setelah anaknya Sultan Haji yang baru saja tiba dari tanah suci memotong arah politiknya serta kompromi dengan Kompeni untuk menghancurkan ayahnya sendiri. Kerjasama antara Sultan Haji dengan Kompeni akhirnya bisa memadamkan perlawanan-perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa beserta pengikut setianya akhirnya ditangkap dan dipenjarakan kompeni hingga wafatnya tahun 1692. Surutnya perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa dan naik tahtanya Sultan Haji pada dasarnya adalah kemenangan Kompeni vang berhasil mengadu domba antara dua Sultan yang bertalian darah. Terlebih setelah ditandatanganinya perjanjian antara Sultan Haji dengan Kompeni (1682) maka Banten betul-betul menjadi kekuasaan Kompeni sebab Sultan hanya simbol belaka.

6.      Fase Perlawanan Rakyat yang dipelopori Ulama
Setelah Banten dikuasai Kompeni, sementara sultan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti kebijaksanaan Kompeni maka muncullah pergerakan perlawanan serta pemberontakan yang terjadi di seluruh pelosok Banten yang tidak puas terhadap Belanda yang telah mencaplok hak asasi rakyat Banten. Rata-rata pimpinan pergerakan perlawanan itu adalah ulama (elite agama) seperti Kiai Wakhia, Kiai Wasyid dan lain-lain. Mereka itulah yang menyadarkan umat untuk merebut harga diri dan hak asasi rakyat Banten yang dirampas orang-orang kafir dari dunia Barat.

B. Kedudukan dan Peran Serta Ulama dalam Kesultanan Banten
Kedudukan sultan-sultan Banten diakui bukan saja sebagai kepala pemerintahan yang memiliki otoritas tertinggi tetapi juga sebagai kepala agama di wilayahnya dengan demikian maka lembaga-lembaga keagamaan mendapat perhatian, pengakuan serta perlindungan penuh dari sulta, terutama ulamanya. Mereka termasuk kelompok kelas elite yang memiliki pengaruh besar terhadap jalannya pemerintahan ataupun masyarakat. Tidak sedikit kaum ulama yang ditempatkan di posisi terhormat sebagai suatu sistem dalam kerangka umum administrasi negara, baik pusat maupun di tingkat lokal (daerah) disamping kelas administrasi sekuler bahkan terdapat suatu lembaga tinggi pemenntah yang secara spesifik pengelolaannya diserahkan kepada kaum ulama yaitu "Mahkamah Agung" dengan gelar resminya Fakih Hajamuddin.

Disamping kaum elite agama yang terlibat langsung dalam kerangka sistem administrasi pemerintah juga terdapat kelas elite agama partikelir (tidak memiliki kekuasaan dalam birokrasi pemerintahan) mereka juga mendapat perlindungan dan Sultan. Melihat kedudukan ulama begitu terhormat, bukan saja sebagai kaum rohaniawan tetapi juga menduduki jabatan tinggi pemerintahan, maka peranannya pun dalam ikut serta menjaga stabilitas dan harmonisasi pemerintahan sangatlah besar.


Ketika terjadi peristiwa penyerbuan atas Pakuan Pajajaran Hindu pada masa pemerintahan Maulana Yusuf, peran ulama sangat besar, bukan saja sebagai pemberi spirit tetapi juga terlibat dalam pertempuran. Suasana harmonis antara ulama dan umara’ Berjalan dari masa kemasa hingga terjadinya aneksasi Belanda atas Banten. Kesempatan ulama (kaum elite agama) untuk berpartisipasi dalam soal-soal kebijaksanaan pemerintah sudah tidak ada peluang, semuanya sudah diatur oleh Belanda. Peranan Pejabat-pejabat agama seperti penghulu, personil masjid semakin dipersempit dan bahkan banvak didudukan pejabat-pejabat biasa dengan pengawasan ketat dan pemenntah Belanda. Pembatasan terhadap jama'ah haji juga dilakukan. tetapi jumlah peserta dalam setiap tahunnya terus meningkat. Sebagai akibat dari kebijaksanaan-kebijaksanaan yang mendiskreditkan kaum elite agama (ulama) itu serta adanya pemnnatan hak asasi rakyat, maka bangkitlah ulama-ulama Banten untuk mengadakan perlawanan terhadap Kompeni Belanda. 

Senin, 29 Mei 2017

Sejarah Hollywood

Sejarah Hollywood - Setelah sebelumnya kita membahas tentang sejarah wali songo, pada kesempatan kali ini kita akan terbang jauh ke negri Paman Sam untuk membahas tentang Sejarah Hollywood. Julukan Hollywood mungkin tidak asing lagi ditelinga anda, terutama bagi pecinta film-film barat. Baiklah untuk lebih jelasnya silahkan simak materi sejarah Hollywood berikut ini.

Sejarah Hollywood
Sejarah Hollywood

Sejarah Hollywood
Markah tersebut pertama kali didirikan pada tahun 1923 dan awalnya bertuliskan "HOLLYWOODLAND". Tujuannya adalah untuk mengiklankan perumahan baru yang sedang dikembangkan di kawasan bukit di atas distrik Hollywood, Los Angeles. H.J. Whitley pernah menggunakan markah serupa untuk mengiklankan pengembangan Whitley Heights miliknya yang berlokasi di antara Highland Avenue dan Vine Avenue. Dia menyarankan kepada temannya, Harry Chandler, pemilik koran Los Angeles Times, bahwa sindikat tanah yang ia terlibat di dalamnya membuat markah serupa untuk mempromosikan tanah mereka.Pengembang real estate Woodruff and Shoults menyebut proyek mereka "Hollywoodland" dan mempromosikannya sebagai "lingkngan megah tanpa biaya berlebih di bukit sisi Hollywood".

Mereka mengontrak Crescent Sign Company untuk mendirikan tigabelas huruf di sisi bukit, yang masing-masing menghadap ke selatan. Pemilik perusahaan, Thomas Fisk Goff(1890–1984), mendesain markah tersebut. Setiap huruf berukuran lebar 30 feet (9,1 m) dan tinggi 50 feet (15 m), dan seluruhnya dilengkapi dengan 4.000 bola lampu. Markah tersebut dirancang menyala bergilirian; "HOLLY," "WOOD," dan "LAND" akan bersinar bergantian sebelum seluruhnya menyala bersama. Di bawah markah Hollywoodland dipasangi lampu sorot untuk menarik perhatian lebih. Proyek markah ini memakan biaya sekitar $21.000 (sekitar $250.000 padakurs tahun 2011)

Markah tersebut resmi selesai pada 13 Juli 1923, dan direncanakan untuk bertahan hanya selama satu setengah tahun.Tetapi pasca kenaikan sinema Amerika di Los Angeles saatEra Emas Hollywood, markah tersebut menjadi simbol yang dikenal secara internasional, dan sesudahnya dibiarkan berdiri disana. Setelah kurun waktu lebih dari setengah abad, markah tersebut yang hanya didesain untuk 18 bulan telah mengalami kerusakan ekstensif.

Pada awal tahun 1940-an, Albert Kothe, penjaga resmi markah tersebut, menyebabkan sebuah kecelakaan yang menhancurkan huruf "H" pada markah tersebut.Kothe, sembari mabuk, mengemudi mendekati puncak Mount Lee ketika dia kehilangan kontrol kendaraannya dan melintasi tepi jurang di belakan huruf "H".

Pada tahun 1949, Hollywood Chamber of Commerce memulai kontrak dengan Departemen Taman Kota Los Angeles untuk memperbaiki dan membangun ulang markah tersebut. Kontrak tersebut salah satunya menetapkan untuk menghilangkan tanda "LAND" untuk mengeja "Hollywood" dan merefleksikan distrik, bukan perumahan "Hollywoodland". Departemen Taman Kota menetapkan semua biaya pencahayaan akan ditanggung oleh Hollywood Chamber of Commerce, sehingga Dewan memutuskan untuk tidak mengganti bola lampu yang ada. Usaha tahun 1949 memberikan sedikit perubahan, walaupun kayu dan logam markah yang tidak terlindungi terus mengalami kerusakan, hingga pada tahun 1970-an, Huruf "O" pertama terpecah, nampak seperti huruf "u", dan huruf "O" ketiga roboh sepenuhnya, meninggalkan huruf-huruf lain yang rusak sebagian terbaca "HuLLYWO D".

Pada tahun 1978, sebagian besar didukung kampanye publik untuk perbaikan oleh Alice Cooper, Hollywood Chamber of Commerce memutuskan untuk mengganti markah yang rusak dengan struktur yang lebih permanen. Sembilan pendonor menyumbangkan masing-masing $27.700 each (total $249.300) untuk membiayai huruf pengganti yang terbuat dari baja. Sembilan pendonor tersebut adalah:

H – Terrence Donnelly – penerbit Hollywood Independent Newspaper
O – Giovanni Mazza – produser film asal Italia
L – Les Kelley – pemulai Kelley Blue Book
L – Gene Autry – penyanyi, aktor, dan pengusaha
Y – Hugh Hefner – pendiri majalah Playboy
W – Andy Williams – penyanyi
O – Warner Bros. Records – perusahaan label rekaman
O – Alice Cooper – penyanyi, menyumbang atas memorial komedian Groucho Marx
D – Thomas Pooley – menyumbang atas nama Matthew Williams

Huruf yang baru berukuran tinggi 14 m dan lebar bervarisai dari 9,4 hingga 12 m. Versi terbaru markah tersebut diresmikan pada 14 November 1978 sebagai bagian perayaan 75 tahun Hollywood dalam acara televisi yang disaksikan 60 juta penonton.

By ; Samuel Zaraki

Demikianlah sejarah Hollywood yang sempat kami paparkan dan jangan lupa juga untuk menyimak sejarah wali songo yang sebelumnya telah kami jabarkan.

Kamis, 09 Februari 2017

Sejarah dan Misteri Benua Atlantis yang Hilang

Sejarah dan Misteri Benua Atlantis yang Hilang - Mitos tentang Peradaban Atlantis pertama kali dicetuskan oleh seorang filsafat Yunani kuno bernama Plato (427 – 347 SM) dalam buku Critias dan Timaeus Dalam buku Timaeus Plato menceritakan bahwa dihadapan selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.


Sejarah dan Misteri Benua Atlantis yang Hilang
Sejarah dan Misteri Benua Atlantis yang Hilang 
Dibagian lain pada buku Critias adalah adik sepupu dari Critias mengisahkan tentang Atlantis. Critias adalah murid dari ahli filsafat Socrates, tiga kali ia menekankan keberadaan Atlantis dalam dialog. Kisahnya berasal dari cerita lisan Joepe yaitu moyang lelaki Critias, sedangkan Joepe juga mendengarnya dari seorang penyair Yunani bernama Solon (639-559 SM). Solon adalah yang paling bijaksana di antara 7 mahabijak Yunani kuno, suatu kali ketika Solon berkeliling Mesir, dari tempat pemujaan makam leluhur mengetahui legenda Atlantis.

Garis besar kisah pada buku tersebut Ada sebuah daratan raksasa di atas Samudera Atlantik arah barat Laut Tengah yang sangat jauh, yang bangga dengan peradabannya yang menakjubkan. Ia menghasilkan emas dan perak yang tak terhitung banyaknya. Istana dikelilingi oleh tembok emas dan dipagari oleh dinding perak. Dinding tembok dalam istana bertahtakan emas, cemerlang dan megah. Di sana, tingkat perkembangan peradabannya memukau orang. Memiliki pelabuhan dan kapal dengan perlengkapan yang sempurna, juga ada benda yang bisa membawa orang terbang. Kekuasaannya tidak hanya terbatas di Eropa, bahkan jauh sampai daratan Afrika. Setelah dilanda gempa dahsyat, tenggelamlah ia ke dasar laut beserta peradabannya, juga hilang dalam ingatan orang-orang.

Jika dibaca dari sepenggal kisah diatas maka kita akan berpikiran bahwa Atlantis merupakan sebuah peradaban yang sangat memukau. Dengan teknologi dan ilmu pengetahuan pada waktu itu sudah menjadikannya sebuah bangsa yang besar dan mempunyai kehidupan yang makmur. Tapi kemudian saya mempunyai pertanyaan, apakah itu hanya sebuah cerita untuk pengantar tidur pada jamannya Plato atau memang Plato mempunyai bukti2 kuat dan otentik bahwa atlantis itu benar-benar pernah ada dalam kehidupan di bumi ini?
Terdapat beberapa catatan tentang usaha para ilmuwan dan orang-orang dalam pencarian untuk membuktikan bahwa Atlantis itu benar-benar pernah ada. Menurut perhitungan versi Plato waktu tenggelamnya kerajaan Atlantis, kurang lebih 11.150 tahun yang silam. Plato pernah beberapa kali mengatakan, keadaan kerajaan Atlantis diceritakan turun-temurun. Sama sekali bukan rekaannya sendiri. Plato bahkan pergi ke Mesir minta petunjuk biksu dan rahib terkenal setempat waktu itu. Guru Plato yaitu Socrates ketika membicarakan tentang kerajaan Atlantis juga menekankan, karena hal itu adalah nyata, nilainya jauh lebih kuat dibanding kisah yang direkayasa.

Jika semua yang diutarakan Plato memang benar-benar nyata, maka sejak 12.000 tahun silam, manusia sudah menciptakan peradaban. Namun di manakah kerajaan Atlantis itu? Sejak ribuan tahun silam orang-orang menaruh minat yang sangat besar terhadap hal ini. Hingga abad ke-20 sejak tahun 1960-an, laut Bermuda yang terletak di bagian barat Samudera Atlantik, di kepulauan Bahama, dan laut di sekitar kepulauan Florida pernah berturut-turut diketemukan keajaiban yang menggemparkan dunia.

Suatu hari di tahun 1968, kepulauan Bimini di sekitar Samudera Atlantik di gugusan Pulau Bahama, laut tenang dan bening bagaikan kaca yang terang, tembus pandang hingga ke dasar laut. Beberapa penyelam dalam perjalanan kembali ke kepulauan Bimini, tiba-tiba ada yang menjerit kaget. Di dasar laut ada sebuah jalan besar! Beberapa penyelam secara bersamaan terjun ke bawah, ternyata memang ada sebuah jalan besar membentang tersusun dari batu raksasa. Itu adalah sebuah jalan besar yang dibangun dengan menggunakan batu persegi panjang dan poligon, besar kecilnya batu dan ketebalan tidak sama, namun penyusunannya sangat rapi, konturnya cemerlang. Apakah ini merupakan jalan posnya kerajaan Atlantis?

Awal tahun ‘70-an disekitar kepulauan Yasuel Samudera Atlantik, sekelompok peneliti telah mengambil inti karang dengan mengebor pada kedalaman 800 meter di dasar laut, atas ungkapan ilmiah, tempat itu memang benar-benar sebuah daratan pada 12.000 tahun silam. Kesimpulan yang ditarik atas dasar teknologi ilmu pengetahuan, begitu mirip seperti yang dilukiskan Plato! Namun, apakah di sini tempat tenggelamnya kerajaan Atlantis?

Tahun 1974, sebuah kapal peninjau laut Uni Soviet telah membuat 8 lembar foto yang jika disarikan membentuk sebuah bangunan kuno mahakarya manusia. Apakah ini dibangun oleh orang Atlantis?

Tahun 1979, ilmuwan Amerika dan Perancis dengan peranti instrumen yang sangat canggih menemukan piramida di dasar laut “segitiga maut” laut Bermuda.
Panjang piramida kurang lebih 300 meter, tinggi kurang lebih 200 meter, puncak piramida dengan permukaan samudera hanya berjarak 100 meter, lebih besar dibanding piramida Mesir. Bagian bawah piramida terdapat dua lubang raksasa, air laut dengan kecepatan yang menakjubkan mengalir di dasar lubang.
Piramida besar ini, apakah dibangun oleh orang-orang Atlantis? Pasukan kerajaan Atlan pernah menaklukkan Mesir, apakah orang Atlantis membawa peradaban piramida ke Mesir? Benua Amerika juga terdapat piramida, apakah berasal dari Mesir atau berasal dari kerajaan Atlantis?

Tahun 1985, dua kelasi Norwegia menemukan sebuah kota kuno di bawah areal laut “segitiga maut”. Pada foto yang dibuat oleh mereka berdua, ada dataran, jalan besar vertikal dan horizontal serta lorong, rumah beratap kubah, gelanggang aduan (binatang), kuil, bantaran sungai dll. Mereka berdua mengatakan mutlak percaya terhadap apa yang mereka temukan itu adalah Benua Atlantis seperti yang dilukiskan oleh Plato. Benarkah itu?

Yang lebih menghebohkan lagi adalah penelitian yang dilakukan oleh Aryso Santos, seorang ilmuwan asal Brazil. Santos menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang ini disebut Indonesia. Dalam penelitiannya selama 30 tahun yang ditulis dalam sebuah buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization” dia menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis itu merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Sedangkan menurut Plato Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Dan kebenaran yang pasti tentang keberadaan benua Atlantis pun masih misteri hingga kini. Kira-kira bagaimana kehidupan bangsa Atlantis dan bagaimana mereka musnah?


Sejarah Peradaban Islam Di Mekkah

Sejarah Peradaban Islam Di Mekkah - Ada perisitiwa penting dalam sejarah dimana Nabi Muhammad sebagai penengah antara penduduk Qurais yang sedang bertikai tentang peletakan hajar aswat mereka menganggap kelompok mereka mempunyai hak untuk meletakan Hajar Aswat tersebut, sehingga menyebekan pertikaian. Kemudia pada saat itu Abu Umayyah ibn Mughiro al-Makhzumi mengusulkan agar keputusan diserahkan kepada orang yang pertama kali memasuki pintu Shafa. Kemudian diketahui belakangan ini orang yang pertama kali memasuki pintu Shafa adalah Muhammad kemudian orang-orang Qurays sepakat atas usulan itu. Muhammad mengeluarkan ide cemerlang yaitu beliau mengambil kain dan disuruhnya setiap kabilah mengangkat bagian sisi kain tersebut secara bersamaan. Dengan begitu permasalahan yang timbul dapat terselesaikan.


Sejarah Peradaban Islam Di Mekkah
Sejarah Peradaban Islam Di Mekkah

A. Sejarah Situasi Masyarakat Menjelang Masuknya Islam Ke Mekkah
     Pembahasan tentang bangsa Arab pra Islam selalu identik dengan sebutan Jahiliah, meskipun perlu dipahami kembali makna Jahiliah selama ini diartikan bodoh tidak tahu baca tulis, padahal terdapat bukti sejarah yang menunjukan kecerdasan Bangsa Arab baik melalui sya’ir dan lainnya. Berbicara mengenai Arab pra Islam maka harus selalu dikaitkan dengan lingkungan dan keadaan di sekitarnya serta kondisi masyarakatnya. Ketiga faktor itulah yang menentukan karakteristik atau watak suatu bangsa. Berikut aspek-aspek yang mengenai situasi Arab pra-Islam:

a. Kondisi Geografis
Jazirah Arab atau Pulau Arab adalah satu semenanjung yang terletak di sebelah barat daya Asia. Semenanjung ini dengan jazirah karena tiga sisinya berbatasan dengan air, yaitu sebelah timur berbatasan dengan teluk Oman dan teluk Persi (teluk Arab), disebelah selatan berbatasan dengan Lautan India, disebelah barat berbatasan dengan Laut Merah. Hanya disebelah utara, jazirah ini berbatsn dengan daratan atau padang pasir  Irak dan Syiria. Jazirah ini termasuk semenanjung terbesar di dunia, luasnya sekitar tiga juta kilometer persegi, atau lebih kurang sepertiga dari luas benua Eropa. Secara Geografis, jazirah Arab merupakan padang pasir , yaitu hamper lima per enam daerahnya terdiri dari padang pasir, dan gunung berbatu.

Secara garis besar, jazirah Arab dibedakan menjadi dua, yakni daerah pedalaman dan pesisir. Daerah pedalaman jarang sekali mendapatkan hujan, namun sesekali hujan turun dengan lebatnya. Kesempatan demikian biasa dimanfaatkan penduduk nomadik dengan mencari genangan air dan padang rumput demi keberlangsungan hidup mereka. Sedangkan daerah pesisir, hujan turun dengan teratur, sehingga para penduduk daerah tersebut relatif padat dan sudah bertempat tinggal tetap. Oleh karena itu, di daerah pesisir ini, jauh sebelum Islam lahir, sudah berkembang kota-kota dan kerajaan-kerajaan penting, seperti kerajaan Himyar, Saba’, Hirah dan Ghassan.

b. Kondisi Politik
Model organisasi politik bangsa Arab lebih didominasi kesukuan (model kabilah). Kepala sukunya disebut Shaikh, yakni seorang pemimpin yang dipilih antara sesama anggota. Shaikh  dipilih dari suku yang lebih tua, biasanya dari anggota yang masih memiliki hubungan famili. Fungsi pemerintahan Shaikh ini lebih banyak bersifat penengah (arbitrasi) dari pada memberi komando. Shaikh tidak berwenang memaksa, serta tidak dapat membebankan tugas-tugas atau mengenakan hukuman-hukuman. Hak dan kewajiban hanya melekat pada warga suku secara individual, serta tidak mengikat pada warga suku lain. Keadaan politik Jazirah Arab sebelum mulainya keberadaan Islam diapit oleh dua kerajaan besar, yaitu terdapat Kerajaan Romawi Timur pada bagian Barat, dan terdapat Kerajaan Persia di bagian Timur.

Daerah utama Kerajaan Romawi Timur yaitu di Rum (Turki dan Eropa sekarang), Asia kecil, Siria (Syam), Mesir, Afrika Utara dan Ethiopia. Dan Daerah utama Kerajaan Persia yaitu di Iran, Irak, dan semua wilayah di kawasan teluk Persia dan Jazirah Arab bagian Utara.

Pemerintahan maupun system kenegaraan di Arab pada masa itu terbukti dengan adanya kerajaan-kerajaan berikut
a. Arab Baidah : terdapat Kerajaan Aad, kaum Tsamud, dan kerajaan al-Ambath.
b. Arab Aribah: berada di Yaman. Di sana terdapat kerajaan Mainiyahdan Saba’iyah.
c.  Arab Musta’rabah : berada di Mekkah dan Yatsrib.

Terdapat Kerajaan Ghassaniyah yang merupakan Buffer State dari Kerajaan besar Romawi Timur yang dimana menjadikan agama Kristen sebagai agama resmi. Dan terdapat pula Kerajaan Hirah yang merupakan Buffer State dari Kerajaan Besar Persia.

Pada versi lain adapula yang mengatakan bahwa semasa pra Islam, kondisi politik di tanah Arab terbagi atas 3 yakni :
a.       Kabilah Badui, atau bagian pedalaman. Masyarakatnya di Kabilah Badui terpencar-pencar hidupnya dan diikat oleh ikatan darah dan system fanatisme.
b.      Kerajaan Kindah (480 – 529 SM). Pendirinya adalah Hajar Akil al-Mirrar, masyarakat di kerajaan ini tunduk di bawah Kerajaan Himyar.
c.       Kerajaan di Perkotaan, yang terbagi atas tiga kawasan yaitu Yaman, wilayah Utara dan Hijaz.

Kerajaan-kerajaan pra Islam tersebut dapat dikatakan berada dalam posisi kondisi politik yang labil, dimana satu sama lain saling disibukkan dengan kesibukan untuk mempertahankan diri atau memperluas kawasan kekuasaan saja.

Karena situasi politik yang demikian, maka ketika Muhammad dating dengan misi pembaharuan, mereka tidak dapat memberikan perlawanan yang berarti, sebab sewaktu ada kabilah yang menentangnya, dengan mudah Muhammad saw segera mendapat bantuan dari kabilah lainnya yang menjadi musuh kabilah yang memusuhi Muhammad saw tersebut.

c. Kepercayaan
Sebelum Islam datang , bangsa Arab telah menganut agama yang mengakui bahwa Allah sebagai Tuhan mereka. Kepercayaan ini diwarisi secara turun temurun sejak nabi Ibrahim dan Ismail. Al-Quran menyebutkan agama itu dengan Hanif, yaitu kepercayaan yang mengakui keesaan Allah sebagi pencipta alam, Tuhan menghidupkan dan mematikan , Tuhan yang memeberi rezki dan sebagainya.

Kepercayaan kepada Allah itu tetap diyakini oleh bangsa Arab sampai kerasulan Nabi Muhammad saw. Hanya saja keyakinan itu dicampur baurkan dengan takhayul dan kemusyrikan, mensekutukan Allah dengan sesuatu dalam menyembah, seperti jin, roh, hantu, bulan, matahari, tumbuh-tumbuhan, berhala dan sebagainya.

Adapula yang beragama Nasrani dan Yahudi. Agama bangsa Arab biasa disebut humanisme suku, artinya makna kehidupan itu terwujud dalam keunggulan sifat manusia, yaitu semua kualitas yang bias sejalan dengan cita-cita kemanusiaan atau keberaniaan bangsa Arab. Sikap keunggulan ini berada di tangan suku, bukan terletakk di individu, hal ini karena ia menjadi anggota suku. Yang menjadi tujuan setiap orang adalah menjaga kehormatan suku. Ka’bah menjadi pusat tempat mereka beribadah. Kota suci ini bukan saja disucikan dan dikunjungi oleh penganut asli Makkah tetapi juga orang-orang Yahudi yang bermukim disekitarnya.

d.  Kondisi sosial
Bangsa Arab hidup berpindah-pindah (nomad). Demikian ini karena kondisi tanah tempat mereka hidup terdiri dari gurun pasir kering dan minim turun hujan. Perpindahan mereka dari satu tempat ke tempat lain mengikuti tumbuhnya stepa (padang rumput) yang muncul secara sporadis di sekitar oasis atau genangan air setelah turun hujan. Padang rumput diperlukan badui Arab untuk kebutuhan makan binatang ternak seperti kuda, onta dan domba.

Berbeda halnya dengan penduduk Arab perkotaan terutama penduduk pesisir, pertanian, peternakan dan perdangangan, dapat berkembang dengan baik di daerah tersebut. Hal inilah tentunya yang membuat kehidupan masyarakat pesisir lebih makmur daripada masyarakat pedalaman (badui). Dari realitas ini, maka timbullah reaksi antara penduduk kota atau pesisir dengan penduduk pedalaman atau badui.

Aksi dan reaksi antara penduduk kota dengan masyarakat gurun dimotivasi oleh desakan kuat untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Orang-orang nomad bersikeras mendapatkan sumber-sumber tertentu pada orang-orang kota terhadap apa yang tidak mereka miliki dari lingkungan mereka tinggal. Hal itu dilakukan baik melalui kekerasan (penyerbuan kilat) atau jalan damai (barter). Orang-orang badui nomaden dikenal sebagai perampok darat dan makelar. Gurun pasir, yang merupakan daerah operasi mereka sebagai perampok, memiliki kesamaan karakteristik dengan laut.

Masyarakat, baik nomadik maupun yang menetap, hidup dalam budaya kesukuan. Organisasi dan identitas sosial berakar pada keanggotaan dalam suatu rentang komunitas yang luas. Kelompok beberapa keluarga membentuk kabilah (clan). Beberapa kelompok kabilah membentuk suku (trible) dan dipimpin oleh Shaikh. Keeratan hubungan kesukuan, kesetiaan atau solidaritas kelompok menjadi sumber kekuatan bagi suatu kabilah atau suku. Maka tidak heran, jika peperangan antar suku menjadi ciri khas masyarakat ini. Rendahnya harga wanita seakan-akan menjadi akibat dari keadaan masyarakat yang suka berperang tersebut.

Kehidupan social bangsa Arab dapat juga kita ketahui misalnya dengan adanya syair-syair Arab. Syair adalah salah satu seni yang paling indah yang sangat dihargai dan dimuliakan oleh bangsa Arab. Seorang penyair mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam masyarakat bangsa Arab. Salah satu pengaruh syair pada bangsa Arab ialah bahwa syair itu dapat meninggikan derajat seseorang yang tadinya hina atau sebaliknya dapat menghina-hinakan orang yang tadinya mulia.

e. Watak Bangsa Arab
Pada bagian karakter geografi yang telah diuraikan diatas jelas memperlihatkan bahwa alam negeri Arab seolah-olah tidak bersahabat dengan orang-orang Arab. Kondisi alam yang memiliki pengaruh besar, baik pada bentuk fisik dan psikis. Orang-orang Arab bertubuh kekar, kuat dan mempunyai daya tahan tubuh yang tangguh, karena orang-orang yang lemah telah diseleksi oleh alam itu sendiri untuk dikeluarkan dari kehidupan dunia. Sedangkan pengaruh pada psikis ialah melahirkan watak-watak khas, baik yang positif maupun negative.

Nourouzzaman Shiddiqie menjelaskan sebagai berikut:
1.      Watak-watak Negatif yaitu:
a.       Sulit bersatu, manusia membutuhkan sumber-sumber yang dapat menunjang kelangsungan hidupnya. Jika sumber itu sangat terbatas, maka manusia cenderung untuk memilikinya dalam kelompok kecil, bahkan kalau mungkin ingin dimiliki oleh dirinya sendiri. Hal inilah menjadi salah satu penyebab yang melahirkan watak Arab sulit bersatu.
b.      Gemar berperang.
c.       Kejam, ada dua hal yang dikemukakan untuk dijadikan bukti,bahwa orang Arab berwatak kejam, yaitu sering berperang dan membunuh bayi-bayi perempuan yang baru dilahirkan.
d.      Pembalas dendam, bangsa Arab yang kalah dalam peperangan akan tetap membalas dendamnya, mata dibalas dengan mata, jiwa harus dibayar dengan jiwa. Ini merupakan norma yang tidak bias ditawar lagi.
e.       Angkuh dan sombong, sifat pembalasan dendam tadi sebenarnya akibat yang lahir dari sifat angkuh dan sombong.
f.       Pemabuk dan penjudi, jika dikaitkan dengan sombong yang mereka miliki dan alamnya yang kejam yang diikuti kesulitan hidup, maka sifat orang Arab yang gemar mabuk-mabukkan dan berjudi ini hanya merupakan sebagian dari satu akibat saja.

2.      Watak-watak Positif, yaitu:
a.       Kedermawanan.
b.      Keberanian dan kepahlawanan.
c.       Kesabaran.
d.      Kesetian dan kejujuran.

Sebelum hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad telah melakukan dakwah di Mekkah. Beliau melakukan dakwah setelah menerima wahyu pertama pada malam senin 17 Ramadhan tahun 13 sebelum Hijriyah bertepatan dengan  6 Agustus 610 M. Pada saat  itu Nabi Muhammad berkhalwat di Gua Hira dan Allah mengutus Jibril untuk menyampaikan wahyu pertama yaitu surat al-Alaq.
              
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah  menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.


Ketika selesai menerima wahyu Nabi Muhammad pulang dengan kondisi menggigil ketakutan. Beliau meminta agar istrinya menyelimuti beliau kemudian menceritakan kejadian yang terjadi di Gua Hira.

Sebagai seorang istri yang sholeha dalam kondisi apapun selalu berusaha menenangkan hati suaminya begitulah yang dilakukan oleh Khadijah. Khadijah  berusaha menenangkan hati Rosulullah yang sangat mengalami kegalauan pada saat itu. Setelah menenangkan Rosulullah, Khadijah pergi untuk menemui Waraqah ibn Naufal. Waraqah adalah paman dari Siti Khadijah beliau adalah seorang Nasrani yang banyak mengetahui naskah-naskah kuno.

Siti khadijah menceritakan kejadian yang dialami oleh suaminya kemudian Waraqah mengatakan bahwa yang datang itu adalah Namus (Jibril). Kemudian dia menjelaskan disuatu saat nanti beliau akan diusir oleh kaumnya sendiri.
Ketika beliau tidur kemudian turun ayat Al-Muddatsir.
        
Artinya: “Hai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah!

 Kemudian beliau menyampaikan kepada istrinya tentang perintah Jibril untuk menyampaikan dakwahnya kepada umatnya. Kemudian beliau bertanya kembali umatnya itu yang mana. Dengan demikian wahyu yang turun kedua ini merupakan penobatan Rouslullah sebagai utusan Allah.

Untuk mengawali dakwah Rosulullah SAW ada berbagai metode dakwah yang dilakukan oleh beliau diantaranya:

1.  Dakwah secara sembunyi-sembunyi
Pada periode ini, tiga tahun pertama, dakwah Islam dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Nabi Muhammad mulai melaksanakan dakwah Islam dilingkungan keluarga, mula-mula istri beliau sendiri, yaitu Khadijah, yang menerima dakwah beliau, kemudian Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar sahabat beliau, lalu Zaid, bekas budak beliau. Disamping itu, juga banyak rang yang masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar yang terkenal dengan julukan Assabiqunal Awwalun yaitu orang-orang yang lebih dulu masuk Islam. Mereka adalah Usman bin Affan, Zubair bin Awwan, Sa’ad bin Waqqash, Abdur Rahman bin ‘Auf, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan Al-Arqam bin Abil Arqam yang rumahnya dijadikan markas untuk berdakwah (rumah Arqam).

Pada persiapan dakwah yang berat maka dakwah pertama beliau mempersiapkan mental dan moral. Oleh sebab itu beliau mengajak manusia atau umatnya untuk:
1.      Mengesakan Allah;
2.      Mensucikan dan membersihkan jiwa dan hati;
3.      Menguatkan barisan;
4.      Meleburkan kepentingan diri di atas kepentingan jamaah.

2. Dakwah secara terang-terangan dan terbuka
Setelah  beberapa lama melakukan secara sembunyi-sembunyi turunlah perintah atau firman untuk melakukan dakwah secara terbuka dan terang-terangan:
  
Artinya: Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.( QS: Hijr:94)

Dengan datang atau turunnya perintah itu Nabi mulai berdakwah secara terang-terangan, mula-mulanya nabi mengundang dan menyeru pada kerabat karibnya dari Bani Abdul Muthalib. Ia mengatakan kepada mereka “saya tidak melihat seorang pun dikalangan Arab yang membawa sesuatu ketengah-tengah mereka lebih baik dari apa yang saya bawa kepada kalian. Kubawakan kepadamu dunia dan akhirat yabng terbaik. Tuhan memerintahkan saya mengajak kalian semua. Siapakah diantara kalian yang mau mendukung saya dalam hal ini?”. Tapi mereka semua menolak kecuali Ali.

Langkah berikutnya yang ditempuh Nabi adalah mulai menyeru pada masyarakat umum. Maka Rasulullah naik ke bukit Shafa dan memanggil orang Makkah, beliau bersabda “Bagaimana bila aku mengatakan pada kalian bahwa dilembah sana ada seekor kuda yang akan menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayai apa yang saya ucapkan?” mereka menjawab “ ya , kami percaya karena kami belum pernah mendapatkan engkau berdusta” maka Rasulullah bersabda “Ketahuilah bahwa sesungguhnya aku memberi peringatan kepada kalian tentang siksa yang sangat pedih”. Lalu Rasul mengajak mereka untuk beriman kepada Allah.

Pada masa dakwah secara terang-terangan inilah Nabi mendapatkan perlakuan yang buruk dari umatnya. Karena setelah dakwah terang-terangan itu, pemimpin Quraisy mulai berusaha menghalangi dakwah Rasul. Karena mereka juga melihat semakin bertambahnya jumlah pengikut Nabi, maka mereka pun semakin keras melancarkan serangan-serangan, baik pada Nabi ataupun pada para pengikut Nabi.

Berbagai cara dilakukan oleh pemuka-pemuka kaum Quraisy agar Nabi menghentikan dakwahnya, saat itu mereka tidak berani melukai Nabi karena perlindungan dari pamanya Abi Thalib yang sangat disegani dikalangan masyarakat saat itu. Para pengikut Nabi yang juga termasuk kalangan bangsawan terselamatkan dari siksa kaum Quraisy saat itu, dan bagi mereka yang tidak memiliki perlindungan, harus menahan siksa yang pedih dari kaum Quraisy saat itu. Nabi juga mendapatkan jalan buntu dalam dakwahnya. Intinya Nabi dan para pengikutnya mendapat hambatan serta siksaan baik secara fisik dan mental dari kaum Quraisy saat itu. Sehingga kemudian Nabi memutuskan untuk menyebarkan dakwahnya di wilayah lain dengan harapan dakwahnya akan berkembang dengan pesat alasan lainnya adalah untuk menghindari serangan dari pemuka-pemuka Quraisy saat itu.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan dakwah beliau banyak mendapat tantangan yaitu sebagai berikut:
1.      Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan. Mereka mengira bahwa tunduk kepada seruan Nabi Muhammad berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani Abdul Muthalib.
2.      Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya.
3.      Para pemimpin Quraisy tidak mau percaya ataupun mengakui serta tidak menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan diakhirat.
4.      Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat akar pada bangsa Arab, sehingga sangat berat bagi mereka untuk meninggalkan agama nenek moyang dan mengikuti agam Islam.
5.      Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rezeki.

Tekanan dari orang-orang kafir semakin keras terhadap gerakan dakwah Nabi Muhammad saw, terlebih setelah meninggalnya dua orang yang selalu melindungi dan menyokong Nabi Muhammad dari orang-orang kafir, yaitu paman beliau, Abu Thalib, dan istri tercinta beliau, Khadijah. Tahun itu menjadi tahun kesedihan beliau sehingga dinamakan Amul Khuzn.
 Karena di Mekkah dakwah Nabi Muhammad saw mendapat rintangan dan tekanan, pada akhirnya nabi memutuskan untuk berdakwah diluar Mekkah. Akan tetapi, di Thaif beliau dicaci dan dilempari batu sampai beliau terluka. Hal ini hampir membuat Nabi Muhammad putus asa, sehingga untuk menguatkan hati beliau, Allah swt mengutus dan mengisra’ dan memi’rajkan beliau pada tahun kesepuluh kenabian itu. Berita itu menggemparkan masyarakat Mekkah. Dan ini kesempatan bagi orang-orang kafir untuk mendustakan Nabi Muhammad saw. Sedangkan bagi orang yang beriman ini merupakan ujian keimanan.

c. Peristiwa Hijrah Dan Pembentukan Negara Islam Di Madinah Dengan Adanya Piagam Madinah
Penduduk Yatsrib sebelum islam terdiri dari dua suku bangsa yaitu arab dan yahudi yang keduanya ini saling bermusuhan. Karena kegiatan dagang di Yatsrib dikuasai atau berada di bawah kekuasaan yahudi. Waktu permusuhan dan kebencian antara kaum yahudi dan arab semakin tajam, kaum yahudi melakukan siasat memecah belah dengan melakukan intrik dan menyebarkan permusuhan dan kebencian diantara suku Aus dan Khazraj. Siasat ini berhasil dengan baik, dan mereka merebut kembali posisi kuat terutama dibidang ekonomi. Bahkan siasat yahudi itu mendorong suku khazraj bersekutu dengan bani qainuqah (yahudi), sedangkan suku aus bersekutu dengan bani quraizah dan bani nadir. Klimaks dari permusuhan dua suku tersebut adalah perang Bu’as pada tahun 618 M seusai perang baik kaum aus maupun khazraj menyadari, akibat dari permusuhan mereka, sehingga mereka berdamai.

Setelah kedua suku berdamai dan suku khazraj pergi ke Makkah, dan setelah di Makkah Nabi Muhammad SAW menemui rombongan mereka pada sebuah kemah. Beliau memperkenalkan islam dan mengajak mereka agar bertauhid kepada Allah SWT karena sebelumnya mereka telah mendengar ajaran taurat dari kaum yahudi dan mereka tidak merasa asing lagi dengan ajaran Nabi maka mereka menyatakan masuk islam dan berjanji akan mengajak penduduk Yastrib masuk islam. Setibanya di Yatsrib meraka bercerita kepada penduduk tentang Nabi Muhammad SAW, dan agama yang dibawanya serta mengajak mereka masuk islam. Sejak itu nama Nabi dan Islam menjadi bahan pembicaraan masyarakat arab di Yatsrib.

Setelah peristiwa Isra’ dan Mi’raj, ada suatu perkembangan besar bagi kemajuan dakwah islam. Perkembangan datang dari sejumlah penduduk Yatsrib (Madinah) yang berhaji ke Mekkah. Mereka yang terdiri dari suku ‘Aus dan Khajraj, masuk Islam dalam tiga gelombang.
1.      Pada tahun kesepuluh kenabian, beberapa orang Khajraj berkata kepada Nabi: “Bangsa kami telah lama terlibat dalam permusuhan, yaitu antara suku Khajraj dan ‘Aus. Mereka benar-benar merindukan perdamaian. Kiranya Tuhan mempersatukan mereka kembali dengan perantaraan engkau dan ajaran-ajaran yang engkau bawa. Oleh karena itu kami akan berdakwah agar mereka mengetahui agama yang kami terima dari engkau ini.”
2.      Pada tahun kedua belas ke-nabian delegasi Madinah, terdiri dari sepuluh orang suku Khajraj dan dua orang suku ‘Aus serta seorang wanita menemui nabi di suatu tempat bernama Aqabah. Dihadapan nabi mereka menyatakan ikrar kesetiaan. Rombongan ini kemudian kembali ke Madinah sebagai juru dakwah dengan ditemani oleh Mus’ab ibn Umair yang sengaja diutus nabi atas permintaan mereka. Ikrar ini disebut dengan perjanjian “Aqabah pertama.” Pada musim haji berikutnya, jamaah haji yang dating ke Yatsrib berjumlah 73 orang. Atas nama penduduk Yatsrib, mereka meminta pada nabi agar berkenan pindah ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela nabi dari segala macam ancaman. Nabi pun menyetujui Aqabah kedua.


Tatkala gejala-gejala kemenangan di Yatsrib (Madinah) Nabi menyuruh para sahabatnya untuk berpindah ke sana. Dalam waktu dua bulan hampir semua kaum muslimin, kurang lebih 150 orang, telah meninggalkan kota makkah untuk mencari perlindungan kepada kaum muslimin yang baru masuk di Yatsrib.

Kaum Quraisy sangat terperanjat sekali setelah mereka mengetahui bahwa Nabi mengadakan perjanjian dengan kaum Yatsrib sehingga mereka khawatir kalau-kalau Muhammad dapat bergabung dengan pengikut-pengikutnya di Madinah dan dapat membuat markas yang kuat di sana. Kalau demikian terjadi, maka soalnya bukan hanya mengenai soal agama semata-mata, tetapi juga menyinggung soal ekonomi yang mungkin saja mengakibatkan kehancuran perniagaan dan kerobohan rumah tangga mereka karena kota Yatsrib terletak pada lin perniagaan mereka antara Makkah dengan Syam.

Bila penduduk Yatsrib bermusuhan dengan mereka maka perniagaan mereka dapat saja mengalami keruntuhan. Oleh karena itu salah satu jalan yang harus mereka tempuh ialah melakukan sesuatu tindakan yang menentukan agar dapat menumpas “keadaan buruk ini” yang akan mendatangkan bencana bagi agama dan pintu-pintu rizki mereka.

Setelah melihat dampak yang sangat besar yang dapat merugikan ekonomi dan perniagaan mereka maka mereka melakukan sidang untuk permasalahan tindakan apa yang harus mereka lakukan. Setelah melakukan persidangan akhirnya jalan satu-satunya ialah dengan membunuh Muhammad, tetapi bagaimana membunuhnya? Kaum keluarga Muhammad tentu tidak akan diam begitu saja mereka tentu saja akan membunuh pula siapa yang membunuh Muhammad.

Akhirnya Abu Jahal menemukan ide yang paling aman yaitu: masing-masing kabilah harus memilih seorang pemuda yang akan membunuh bersama-sama. Dengan demikian seluruh kabilah bertanggung jawab atas kematian Muhammad dan Bani Abu Manaf tidak mampu menuntut bela terhadap seluruh kabilah. Akirnya Bani Abu manaf akan menerima saja pembayaran yang dibayarkan oleh seluruh kabilah kepada mereka.

Nabi memberitahukan akan hal ini kepada Abu Bakar, dan Abu Bakar meminta kepada Nabi, supaya diizinkan menemani beliau dalam perjalanan ke Yatsrib. Nabi setuju, dan Abu Bakar mempersiapkan untuk perjalanannya. Kemudian Nabi menyuruh Ali bin Abi Thalib menempati tempat tidur beliau, supaya kaum musyrikin mengira bahwa beliau masih tidur. Kepada Ali diperintahkan juga, supaya mengembalikan barang-barang yang ditumpangkan kepada beliau, kepada pemiliknya masing-masing.

Ketika Nabi dan Abu Bakar keluar dari rumah, Nabi menserakkan pasir ke hadapan para kafir qurais dengan berkata: “Alangkah kejinya mukamu” seketika kafir Quraisy tak sadarkan diri dan mereka tidak mengetahui bahwa Nabi dan Abu Bakar telah keluar rumah.
         
   Adapun perjalanan yang dilakukan Nabi itu, digambarkan oleh Ibnu Hisyam, sebagai berikut: Rasulullah datang dengan sembunyi-sembunyi ke rumah Abu Bakar, kemudian mereka berdua keluar dari pintu kecil di belakang pintu rumah, menuju sebuah Gua di bukit Tsur sebelah selatan kota Makkah lalu mereka masuk ke gua itu.

Dalam perjalanan ke Yatsrib Nabi ditemani oleh Abu Bakar. Ketika tiba di Quba, sebuah desa yang jaraknya sekitar lima kilometer dari Yatsrib, Nabi istirahat beberapa hari lamanya. Dia menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Di halaman rumah ini Nabi membangun sebuah mesjid. Inilah masjid pertama yang dibangun Nabi, sebagai pusat peribadatan, tak lama kemudian, Ali menggabungkan diri dengan Nabi, setelah menyelesaikan segala urusan di Makkah.

 Semetera itu, penduduk Yatsrib menunggu-nunggu kedatangannya. Waktu yang mereka tunggu-tunggu itu tiba. Nabi memasuki Yatsrib dan penduduk kota ini menyambut kedatangan beliau dengan penuh kegembiraan.

Sejak itu, sebagai penghormatan terhadap Nabi, nama kota Yatsrib diubah menjadi Madinatul Muhawwarah (kota yang bercahaya), karena dari sanalah sinar Islam memancar ke seluruh dunia. Dalam istilah sehari-hari, kota ini cukup disebut Madinah saja.

Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru itu, ia segera meletakkan dasar-dasar kehidupan masyarakat diantaranya terdapat tiga dasar yaitu:
1.      Pembagunan masjid, selain tempat sholat, juga sebagai sarana penting untuk mempersatukan kaum muslimin.
2.      Ukhuwah islamiyah, persaudaraan sesama muslim, antara kaum Muhajirin dan kaum Ansar.
3.      Hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama islam.


Dengan terbentuknya negara Madinah, islam makin bertambah kuat. Selain tiga dasar di atas, langkah awal yang ditempuh Rasullullah setelah resmi mengendalikan Madinah adalah membangun kesatuan internal dengan mempersaudarakan orang muhajirin dan anshar. Langkah ini dilakukan sejak awal untuk menghindari terulangnya konflik lama diantara mereka. Dengan cara ini, akan menutup munculnya ancaman yang akan merusak persatuan dan kesatuan dalam tubuh umat islam. Langkah politik ini sangat tepat untuk meredam efek keratakan sosial yang ditimbulkan oleh berbagai manuver orang-orang yahudi dan orang-orang munafik (hipokrif) yang berupaya menyulut api permusuhan antara Aus dan Khazraj, antara muhajirin dan ansar.

Setelah itu Rasulullah juga berupaya menyatukan visi para pengikut Nabi dalam rangka pembentukan sistem politik baru dan mempersekutukan seluruh masyarakat Madinah, sementara itu agar bangunan kerukunan menjadi lebih kuat, Rasulullah membuat konvensi dengan orang-orang yahudi. Dalam konteks ini tampak kepiawaian Nabi dalam membangun sebuah sisem yang mengantisipasi masa depan. Di Madinah, Nabi bersama semua elemen pendudukk Madinah berhasil membentuk structur religio politics atau ”Negara Madinah”.

Untuk mengatur roda pemerintahan, semua elemen masyarakat Madinah secara bersama menandatangani sebuah dokumen yang menggariskan ketentuan hidup bersama yang kemudian lebih dikenal sebagai konstitusi atau Piagam Madinah (Mi’tsaq Al-Madinah).

Piagam Madinah merupakan bentuk piagam pertama yang tertulis secara resmi dalam sejarah dunia. Sebagai gambaran awal, Piagam Madinah adalah undang-undang untuk mengatur sistem politik&sosial masyarakat pada waktu itu. Rasulullah yang memperkenalkan konsep itu.

Sejarah mencatat, Islam telah mengenal sistem kehidupan masyarakat majemuk.Kebhinnekaan.Yakni melalui piagam ini. Ketika itu, umat Islam memulai hidup bernegara setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Yatsrib, yang berubah nama menjadi Madinah. Di madinah, Nabi SAW meletakkan dasar kehidupan yang kuat bagi pembentukan masyarakat baru di bawah kepemimpinan beliau.

Masyarakat baru ini adalah masyarakat majemuk, asalnya dari 3 golongan penduduk.
1.      Kaum Muslim; Muhajirin&Anshar. Mereka adalah kelompok mayoritas. 
2.      Kaum musyrik, orang2 yang berasal dari suku Aus & Khazraj yang belum masuk Islam. Kelompok ini golongan minoritas.
3.      Ketiga adalah kaum Yahudi.

Setelah 2 tahun hijrah, Rasulullah mengumumkan aturan & hubungan antarkelompok masyarakat yang hidup di Madinah.  Melalui Piagam Madinah, Rasulullah SAW ingin memperkenalkan konsep negara ideal yang diwarnai dengan wawasan transparansi,partisipasi. Melalui Piagam Madinah ini, Rasulullah SAW juga berupaya menjelaskan konsep kebebasan. Dan tanggung jawab sosial-politik secara bersama. Karena itu, istilah civil society yang dikenal sekarang itu erat kaitanny dengan sejarah kehidupan Rasulullah di Madinah. Dari istilah itu, juga punya makna ideal dalam proses berbangsa & bernegara. Tercipta masyarakat yang adil, terbuka, dan demokratis.